Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2015

Tamu istimewa : Malam takbiran

Walau hari terakhir puasa, tapi masih ada aja pedagang makanan yang berjejer di sepanjang jalan. Seperti biasa, aku dan adik lelakiku yang bertugas jajan makanan buka puasa. Menit-menit mendekati waktu berbuka, kami sekeluarga+masnya sudah duduk manis di atas karpet (maklum ga punya meja makan) ruang tengah yang merangkap ruang makan juga. Menghadap hidangan berbagai jenis makanan yang aku beli tadi. Sambil mencoba bercengkrama untuk mencairkan suasana yang masih didominasi dengan kecanggungan. Haha. Ba'da isya' kami bertiga (aku, rizna, ghozi) sudah berkomplot merayu papa biar mau ngajak kami jalan- jalan keliling melihat gimana ramainya sangatta pas malam takbiran. Sangatta yang cuma sepanjang Jalan Yos Sudarso I sampai IV + Jalan Soekarno-Hatta ditambah sekitar 3 atau 4 jalan besar lain sebagai percabangannya (cabang yang kalo dibayangkan keseluruhan lebih mirip struktur pertulangan ikan) ternyata bisa rame dan lumayan padat juga ya lalu lintasnya. Dari ujung ke ujung, uda...

Kok bisa yakin?

Tanggal 5 Agustus sudah berani woro-woro ke teman kampus lewat grup. Beberapa pm masuk beruntun. Isinya bervariasi. Salah satunya adalah pertanyaan "How can?" Calon suaminya ugm juga? Bs seyakin ini utk melangkah ke pernikahan apa Riz? I still wonder how can ☺ Bukan☺ Mungkin bagi sebagian orang menjadi gengsi tersendiri dengan menyandang mahasiswa/i UGM. Kenapa ga sama sesama almamater? Aku, dengan bangga dan bahagia kini bersanding dengannya. Memahami bagaimana perjuangannya untuk mencari 'ilmu. Semangat belajar yang tak padam walau berat penuh liku dan pengorbanan. Walau terpaut usia 9thn lebih tua, secara akademis kita hanya beda 2thn. Sosok yang awalnya aku tak menyangka ternyata masih tetangganya simbah (nenek) ku yang di jogja. Kepo via medsos dan dari keluarganya sendiri. Sudah sangat dekat dengan keluarganya. Membuatku semakin paham bagaimana ketangguhan beragama di tengah keluarganya yang masih kejawen. Teringat kisah Djoko kecil yang menolak ditawari makan l...

Percakapan H+13

@ Masjid Wakaf Patangpuluhan t : namanya siapa, mas? * yang dimaksud si - * + : rizka t : kalo njenengan? + : joko t : hayoo..ngapusi too --wes ra joko meneh-- ngakak diceritain percakapan dibalik layar pengurus konsumsi pengajian (> o<) kena troll

Percakapan H+6

Malam hari itu kami harus dijemput travel sangatta-balikpapan. Tapi karena obsesiku untuk take photo post-wedding belum terlaksana, akhirnya ngotot kejar target sore-sore ke lokasi foto-foto yang cuma 7km dari rumah (kurang lebih kayak jarak patangpuluhan ke kampus UGM). Ngejar pencahayaan matahari juga sih. Maklum kamera modal pinjem camdig punya Rizna. @ parkiran bukit pandang indah, kompleks perkantoran pemerintahan kabupaten kutai timur - : *( jalan tertatih di lahan berbatu pake wedges )* o : eitu istrinya mbok digandeng,malah jalan sendiri + : *(canggung mau nggandeng , senyam-senyum sambil nggandeng )*

Rada hectic

nasi goreng keasinan, telur ceplok setengah mateng (•_•;) nggoreng sosis sambil ngaduk nasgor di tungku yg satunya,bikin lupa kalo bumbu ulek nasgornya udah tak kasih garam malah tak taburi banyak garam lagi (-..-') ikutan panik, pas tau suami kemrungsung (>.<) aku lupa kalo suami musti berangkat lebih pagi. Semoga kerjanya barokah, semoga pelatihannya lancar, semoga selalu dalam naungan rahmat Allah. Aamiin (ËŠ▽Ë‹) sampai jumpa nanti waktu maghrib. Mumpung masih libur kuliah (^ω^) mari lanjut beberes kamar yang masih belum normal wujudnya. (u_u')

Percakapan H+9

Sama-sama belum mandi. Satu habis nggoreng nuggets, satu habis pasang gas. Serasa rumah milik berdua, mama mertua sudah berangkat kerja, ponakan sudah berangkat sekolah. - : kok mamas suka sih sama cewek bersekrup-sekrup gini? Diperistri pula. + : mamas kan engi neer, jadi suka robot, papa juga insinyur, jadi wajarlah kalo anaknya robot. - : hidiiih *nubruk bahu*

Kutipan H+8

Perjalanan pulang dari rumah budhe yayuk (Jogoyudan) "Tempat istirahat itu ya memang cuma di akhirat, selama kita masih hidup di dunia ya harus bisa menyelesaikan game -nya" (suami tersayang - 2015) Kalimat sederhana, nampak ringan, tapi maknanya dalam dan nilainya berat. Teringat nasihat Ummi asrama, "Kuliah capek? Capek. Organisasi capek? Capek. Bermasyarakat capek? Capek. Kerja capek? Capek. Berumahtangga capek? Capek. Kapan kita istirahatnya? Di surga! Iya, di surga. Semoga kita dikumpulkan bersama orang-orang sholih di akhirat nanti, di surganya Allah. Aamiin." Sekali lagi diingatkan kemana kita sebenarnya akan kembali pulang :')

Percakapan H-2

"Manglingi" - : besok akad aku dandan sendiri ndak apa-apa ya. + : iya - : tapi kalo ndak manglingi gimana? + : njuk ngopoo - : kan katanya, biasanya kalo nikah itu dandannya manglingi + : yaudah, besok mukanya ditutupi kresek aja biar manglingi, kan biar orang-orang bilang "kamu siapa ya?". Jadi, pangling kan.

Percakapan H+2

*boncengan, mau motoran ke KUA* + : kok ga pegangan sama suaminya - : (blush) iya bentar ini lagi minum *sambil pegang air mineral kemasan gelas* Jadi ingat tahun-tahun pertama kuliah, sering dibonceng temen yang kurang dekat, jadi ga pegangan. Sekalinya pas di rumah, dibonceng papa jadi ga pegangan. Faktor kebiasaan, jadi kebawa, haha..

Rencananya

rencana awalnya sih tanggal11 ini nikahnya,tapi karena dihitung wetonnya katanya ga baik,hasil lobi akhirnya disepakati tgl 9 nikahnya.. alhamdulillah dengan segala dinamika pra-pernikahan,pernikahan kami bisa berlangsung dengan baik dan lancar ^^

Akhirnya, kamu..

10 Agustus 2015 Akhirnya takdir Allah berkata, kamulah jodohku.. Tak disangka, tak diduga. Awalnya biasa saja. Witing tresna jalaran saka ndunga. Terimakasih sudah memilihku, terimakasih mau memperjuangkan aku. Bismillah, selalu bersama sampai jannahNya, ya &#128519; ... Pagi pertama jadi istri. Keluar kamar jam 8an baru ketemu mama. Mama negur, "mandi dulu sana, Riz" yhaaa ketahuan kebiasaan kalo libur malas mandi pagi . Reflek kujawab "sudah dong", trus mama bilang lagi "oh iya, lupa." #ups &#128517;

Jazakumullah katsira

4 Agustus 2015 H-5 Terimakasih Mama-Papa yang sudah percaya melepaskanku untuk "pria pilihan" ini Terimakasih atas bimbingan dan didikan Mama-Papa selama ini Terimakasih Papa yang sudah menjadikanku "istri kedua" Yang langganan disuruh sekedar  bikinin kopi, setrikain baju, atau nyiapin makan Dari situ aku bisa belajar gimana seharusnya melayani Terimakasih Mama yang paling rajin mengkritik, membaweli, bahkan memarahi Yang rajin sekedar mengkritik lantai kamar yg ngeres, mbaweli kamar berantakan atau marahin karena seharian malas-malasan Dari situ aku bisa belajar gimana seharusnya sigap mengurus rumah Lima hari lagi, semua pelajaran itu harus dipraktikan dalam kehidupan nyata, kehidupan baru, bersama orang baru(?).