Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Suami: bersyukur bertemu

"aku bersyukur ketemunya sama Nda pas masih remaja." Emang kenapa? "Itu artinya aku ikut mendewasakan mu." ☺️ "Dari yang dulu masih 18, sekarang sudah 26. Ga lama lagi 30 ciee." 😅 Jujur. Kebalikannya. Justru aku bersyukur ketemunya setelah mamas jauh lebih dewasa. Mengingat cerita mamas gimana dulu memperlakukan mbak (mantan) pacar sekian belas tahun lalu. Pukpuk mbak (mantan) pacar, ga heran bergumam "mati aku" ketika mendengar pengakuan dari mamas beberapa saat setelah jadian & lega+ikut senang ketika akhirnya mamas memutuskan menikah yang artinya sudah cukup matang untuk melangkah ke jenjang yang serius. Perlakuan lebih baik pun bisa terlihat dari cerita ketika mamas menggebet teman kuliahnya. Bagaimana ia berjuang dan berperan jadi pahlawan sekaligus orang yang paling diandalkan. Pada awalnya aku pernah cemburu dengar cerita-cerita ini. Sebegitunya diperjuangkan. Tapi aku tetap mencoba bertahan karena aku tau, aku puny...

Aku: maunya kamu

Tak begitu ingat kapan rasa ini benar-benar hadir dan bersemayam. Yang jelas, sejak aku mampu memandang lekat-lekat setiap lekuk wajahnya setiap kesempatan semauku. Sebelum menikah walau sudah dekat dan merasa cukup mantap atas banyaknya prinsip yang sejalan, sejujurnya masih mencoba membuka peluang dan memegang prinsip semua lelaki di luar sana adalah calon suamiku. Sampai akhirnya benar-benar dikhitbah. Walau sekadar lewat telepon, percakapan antar papa & dia itu sakral sekali rasanya. Resmi menutup pintu hati. Hingga tiba waktunya akad nikah dilafalkan. Kehadirannya sebagai single fighter di rumah papa mama tidak mengurangi sedikitpun kesakralan momen penting yang kami tunggu ini. Sensasi berdesir yang terjadi baru kali itu seumur hidup. Pertanda langit menjadi saksi atas serah terima tanggung jawab dari seorang papa kepada lelaki asing yang terpilih. Resmi terkunci sudah pintu hati dan pemegang kuncinya adalah ia yang amanah dalam menjaganya. Empat tahun berjalan kini kami su...

Ranting kembali ke titik jenuh bersama lelah & kecewa

Gandeng gendong gembol dalam waktu bersamaan itu butuh tingkat kewarasan luwar biyasak.Tanpa perlu kujelaskan pun aku yakin sudah cukup paham. Terbukti dari berbagai perlakuan istimewa yang mungkin cukup jarang ditemui di luar sana. Tapi tetap saja. Selama masih berada di sini. Sulit sekali menjaga kestabilan kewarasan. Bersusah payah menahan dengan ini itu. Seketika terkuras begitu saja. Bagaikan ibu hamil muntah-muntah tak terkendali "tanpa sebab". Ujungnya lemes dan blank ga ngerti lagi kudu "isi ulang" dengan cara apa. Buat ngisinya aja udah butuh perjuangan tersendiri. Aku cuma butuh keluar dari sini. Berbagai negosiasi sudah dicoba. Sulit sekali acc-nya. Penawaran termahal hingga termurah. Tetap saja penolakan yang kuterima. Berbagai target dipasang, sulit sekali untuk tepat sasaran. Sampai detik ini, selalu meleset. Kucoba tawarkan target baru.. Pulang ke Sangatta. Walau untuk sementara waktu. Mama pasti senang rumah ramai bersama para cucu. Mampukah? ...

Pengalaman menyebalkan dengan perokok

Perjalanan menuju Godean, mau kulakan gagang kipas. Motoran berempat. Belum sampai tujuan hujan turun lumayan deras. Nyari tempat berteduh. Berharap hujannya ga lama. Berteduh di depan toko tutup, ey ada yang ikutan berteduh, ga masalah ya bareng-bareng berteduh. Sesaat kemudian, nyulut rokok balbul 😒 iiiissshhh, ngezelin 😖 Mencoba bertahan, berharap angin & hujan bisa ngalahin asap rokoknya. Tapi udah batuk-batuk ga tahan, akhirnya ngalah mau nembus hujan aja. Baru juga kelar pake jashujan, eh si perokok ngacir dengan sudah berjashujan lengkap dong 😒 ngeselin emang, berhenti cuma buat ngudud. Segitu pentingnya ya ngudud dalam hidup. Ga bisa ditunda dulu gitu. Ga liat-liat tempat pula. Mentang-mentang di tempat terbuka terus merasa bebas ngerokok gitu. Tetep nekad nembus hujanlah. Walau hujan badai, jalanan banyak genangan, kesembur lawan arah, tujuan terdekat masih 3 km tetep hajar. Sampai di tujuan, pesen makan. Pas tengah-tengah makan, huja...