Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Cerita 6#: Kehidupan baru, 2013

Pesantren kok pacaran "Pernah pacaran?" "Pernah, waktu SMA, sudah putus lama, lostcontact." "Pernah ketemu Ikhwan yang iseng? ngajakin nikah gitu?" "Ada, jadi karena di sini saya pengen mencari rumah, saya di sini berusaha terbuka. Ceritanya begini dan begitu, kendalanya begini dan begitu." "Ok, nanti setelah ini selesai, Rizka ketemu lagi ya sama saya." Pergi tuk kembali Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin membasahi telapak tangan. Antara gembira aku akan memulai hidup baru yang kuidamkan. Dengan rasa khawatir? Takut? Sedih? Entah. Campur aduk. "Mas, jadi gini, untuk syarat masuk ke sana ga boleh punya hubungan dalam bentuk apapun. Jadi ini ada surat bermaterai, sebagai tanda keseriusanku bahwa aku berjanji tidak akan berkontak lagi denganmu. Menghilang sementara Raut wajah mendung itu tak pernah kulupa. Aku hanya berpikir soal prioritas. Maafkan. Sudah seharusnya cintaku padaNya harus lebih besar daripada cint...

Cerita 5#: Haruskah pesantren dalam rumah tangga, 2012

Tak kusangka tiap gerak jemariku ada yang mengamati. Ada sisi yang mengagumkan katanya. Tiap kataku didengar seksama. Ada yang berharga katanya. Ada sedikit cerita sebelumnya.. Hampir hilang dalam ingatan, usiaku belum genap 20. Beberapa kali permintaan pertemanan dalam situs bernuansa musim gugur itu tak juga terbalas. Diabaikan, bahkan ditolak, apa sebabnya? Baru lihat sampulnya sudah melabeli masih kekanakan, masih alay katanya. Lupa tapi ku cuek saja dan tetap mencoba mengirimkan permintaan pertemanan. Hanya karena lokasi yang dicantumkannya sama dengan kota tempatku tinggal sekarang. Setelah bebera kali berpapasan di lini masa, barulah ia terima. Mulailah  pengamatan demi pengamatan berlangsung. Tanya jawab, percakapan sederhana, hingga diskusi berat saling menguji. Apakah ini jawaban Sejak derai air mata kala itu. Aku berjanji pada diriku sendiri. Aku tidak akan mau diajak pacaran,  aku hanya mau diajak nikah. Memang tidak sedikit teman lelaki. Cukup akrab, tapi ak...

Cerita 4#: Titik jenuh, 2012

Apa yang kucari? Melangkah beriringan bergandengan dengan nyaman? Menjadi telinga yang setia mendengar? Menjadi bibir yang manis dengan senyum? Apakah suaraku didengar? Apakah yang manis itu hanya untukku? Terpisah jarak dan terhalang waktu. Sibuk dengan urusan masing-masing. Menyempatkan berkabar sekenanya. Suara dan gambar sedapatnya. Dingin, beku, tak bergerak. Panas, emosi, tak terelak. Sepi, diam, tak bersuara. Ini tentang hati, kognisi, pribadi. Kenyamanan inikah yang kucari? Kenyamanan macam apa yang kucari?  Kenyamanan seumur hidup macam apa yang kuharapkan? Akhir hidup tuk lanjutkan kehidupan di alam baru macam apa yang kuimpikan? Melepaskan dan meninggalkan Melewati batas kejenuhan. Lelah tanpa pencapaian. Lelah dengan proses tanpa perkembangan. Lelah jauh dari jalur kebaikan. Masing-masing punya hak melangkah di jalur yang lebih baik, bukan? Sebuah awalan jalan baru "Apakah ini artinya kau melepasku?" Begitu kurang lebih tanyaku. Sebuah jawaban terlont...

Cerita 3#: Pertama kalinya, 2010

Menjadi partner Ya, di sini aku memposisikan diri sebagai partner. Tempat saling bercerita. Mencoba saling memberi ruang kenyamanan. Berbagi kenyamanan. Menghabiskan waktu bersama dikala senggang. Mencari kecocokan Setiap cerita menjadi sangat bermakna. Setiap peristiwa adalah penting. Setiap senti gerakan sangat bernilai. Setiap detik adalah kesempatan mengambil keputusan. Menapaki kebenaran Jatuh bangun keyakinan bertahan. Lepaskan tinggalkan. Kembali datang lagi. Berjalan lurus ke depan. Melewati kelok kanan kiri. Melambung terlampau tinggi. Terhempas jatuh sangat dalam. Jatuh lagi, haruskah bangun lagi?

Sahabat lama: semoga cepat move on

Ada dua atau tiga pilihan. Tergantung nyaman yang mana. Tetap terkoneksi dengannya dan membiarkan semua mengalir apa adanya sampai tanpa sadar hati udah kebal. Tak lagi berdampak apa-apa di hati ketika tau kabarnya. Tutup semua jalur dengannya. Fokus dengan apa yang benar-benar di depan mata. Jalani hidup dengan berbahagia. Selalu nikmati 1001 alasan untuk mensyukuri keadaan yang sekarang. Sementara tutup semua jalur komunikasi apapun. Fokus dengan kehidupan yang dijalani sekarang. Jika sudah lebih tenang, kembali terbuka untuk siapapun. Menerima kabar apapun darinya hanya sekadar cukup tau dan dengan hati senetral mungkin . Aku bisa bilang begini karena inilah yang kulakukan untuk berlepas diri dari W, E, dan A.

Jawaban? Penyesalan?

Jawaban mimpi? Ya...aku ingat betul itu. Aku yang berlari menaiki setiap anak tangga sebuah kastil sambil menangis. Walau sudah mengejar pun tetap tak mampu hapus air mataku. Menyesal? Tak ada yang perlu disesali. Semua sudah terjadi. Jalani, ambil hikmahnya, nikmati. Beginilah jalan perjodohan. Beginilah kehendak Tuhan. Tuhan bukan memberi yang dimau, tapi memberikan yang dibutuhkan. Tuhan bilang aku sudah tak butuh lagi. Bahkan lewat dirinya berkali-kali kudisadarkan atas harapan kosong, sebuah kesiaan atas komunikasi satu arah, dan kesiaan mencari apa yang sudah tak ada. Bahagiaku di sini kudokumentasi lewat tulisan, puisi, cerita, dan sepotong potret. Sejauh ini ku hanya mampu berbagi kisah, kisah yang tak seberapa dibanding kisah lain di luar sana. Tak banyak kisah yang kubaca, tak kuasa kumembacanya. Pun tak semua kisah yang kucari tersedia. Aku hanya menjalani apa yang mampu kujalani. Aku tak kuasa jika harus berhenti, aku harus tetap berjalan. Tapi aku tak mampu jika harus ...

Aku: flashback plurk

Akun plurk sekarang sebenarnya adalah akun ketiga yang kubuat. Keberadaannya sebagai media katarsis(?) tempat melampiaskan segala emosi yang masih cukup bisa dikontrol. (Kalo dah ga bisa dikontrol ya bisanya nangis doang, ga bisa ngetik lagi). Ibarat kalo blog itu buku diary, plurk jadi secarik notes-nya. Seperti fungsinya microblogging. Sebagai salah satu pencatat timeline kehidupan juga. Pertama kenal plurk dari........ Lupaaaaaak 🤣 tapi kalo ga salah sih ya sekitar 2009. Awal masuk SMA apa ya. Dari FB sih kalo ga salah, ah lupa. Friendlist awalnya temen-temen SMA yang SMPnya "luar negri" yang lebih mahir dan akrab mainan internet daripada aku anak dalam negri. Takut mau sebut merk,hehe. Inget username-nya ada luversa-nya gitu. Hahah. ErSa is my very first --halu-- online boyfriend. Lupa doi ikutan ngeplurk apa ga. Yang jelas isinya ya galau-galau soal cowok lah ya, dasar remaja labil. Pendek kata, lupa kombinasi login karena penulisannya alay. Bikin baru, c...