Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

2019 Desember

Desemberku tahun ini kelabu.. Banyak hal penuh tanda tanya. Banyak hal mengecewakan. Banyak hal melelahkan dihadapi. Satu yang aku tau.. Semuanya hanya tentang berpasrah dan berharap hanya pada Allah Hai, aku. Jiwa bergejolak menggebu.. Allah akan menjawab keresahan jika tiba waktunya. Allah akan menggantikan dengan kebaikan berlipat jika mau bersabar dalam tekanan. Allah akan siapkan tempat istirahat nyaman jika tetap taat mengabdi.

Cerita 8#: Jatuh sejatuh-jatuhnya 2014

Menjadi pendukung butuh pendukung Menyimak masalah dari sudut pandang mama, sudah pasti. Begitupun dari sudut pandang papa. Tidak bisa dan tidak mungkin menentang penuh. Menjadi perantara, menjadi pendengar, menjadi tempat menumpahkan segala cerita. Anak tertua, sudah dianggap dewasa, sekolah jurusan psikologi pula. Harusnya mampu jadi pendukung keduanya sekaligus. Seharusnya.. nyatanya... Merasa dunia runtuh. Merasa seolah masa depan tak cerah jika tak mampu bangkit. Tapi bagaimana caranya bangkit? Fisik melemah, opname pertama seumur hidup Gangguan tidur, produksi asam lambung meningkat. Tiada hari tanpa tangisan. Tidak akan bisa tidur sebelum larut.  Batuk dan sesak malam hari tanpa sebab. Hilang nafsu makan. Tapi hidup harus terus berjalan. Bangun sebelum subuh, tubuh harus tetap ternutrisi. Kurang istirahat, menu pedas jadi andalan pemikat makan. Kolaborasi sempurna untuk merusak lambung. Muntah pahit & feses menghitam akibat lambung yang terluka. Say hello to hospital...

Cerita 7#: Negara api menyerang 2014

Lebih peduli dan perhatian pada keluarga Di asrama, aku memang disibukkan dengan berbagai kegiatan. Aktivitas penuh sejak matahari belum terbit hingga tengah malam. Namun, padatnya kesibukan kampus & asrama tak boleh membuat kami lupa dengan keluarga. Begitu kata Ummi pemilik asrama. Tiada hari tanpa menyapa mama, papa, ataupun adik-adik di rumah. Aku akui, aku jadi lebih perhatian pada mereka sejak aku ada di asrama. Aktivitas yang lebih padat, justru semakin membuatku lebih perhatian pada mereka. Menjadi pendengar yang baik Tiada hari tanpa berkabar. Tiada hari tanpa sapa dan saling doa. Tiada hari tanpa cerita. Cerita demi cerita tertutur. Aku yang biasanya jadi pencerita, belajar memposisikan diri jadi pendengar yang baik. Memantik adik-adik  yang jarang sekali mau bercerita karena jarak jauh pun tak mudah ternyata. Lain halnya dengan papa mama. Aku lebih mudah saling bercerita dengan keduanya. Menyediakan diri jadi tempat bercerita keduanya Menjadi pendengar cerita p...