Langsung ke konten utama

Kebiasaan

 Sebagai orang yang lahir di jogja, 8 ½ tahun pertama kehidupannya tinggal di jogja. Lalu menghabiskan 10 ½ tahun berikutnya di Sangatta. Setelah itu kembali lagi ke jogja sampai detik ini terhitung sudah hampir 11 tahun lamanya.

Masih berkutat di negara yang sama, iklim yang sama. Ternyata bisa mempengaruhi kebiasaan ya. Kebiasaan mandi salah satunya. 

Waktu di jogja, diajarinya mandi 2x sehari. Pagi dan sore. Di sekolah pun hampir selalu ditanya "kalau mandi berapa kali sehari?" Jawabannya pasti 2.

Setelah pindah ke Sangatta, daerah yang lebih dekat dengan garis khatulistiwa. Kebayang panasnya? Butuh berapa kali mandi dalam sehari?

😂 SATU KALI 🤣

Mode hamat air cuy 😂🤣

Ya gimana, tinggal di lingkungan yang air tanahnya belum bisa dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Hanya bisa mengandalkan air PDAM. Itu juga ga tiap hari ngalir, tiga hari sekali ngalirnya. Dua kali seminggu ngalir itu bisa dapet juga pas dini hari euy. Pagi siang sore malam masih rebutan sama warga lain.

Luar biasa memang perjuangan mama kala itu, demi pemenuhan kebutuhan air sehari-hari untuk keluarga.

Saking kudu harus berhemat. Tiap dengar gemericik air ngalir tumpah gitu jadi cemas sendiri 😅 biasa suara gemericik air bikin rileks ya, ini malah memicu cemas.

Waktu balik ke jogja, kan ngekos yak, bebas dong. Masih berlanjut tu kebiasaan mandi sekali sehari. Haha

Sekalinya mau punya pasangan orang jogja yang seluruh hidupnya berkutat di DIY dan ga berubah kebiasaan mandinya always 2x sehari kecuali hari libur. Ada gap dong 😌 kalo jadi pasangan bakal jadi masalah ga nih 🤣 

Seiring berjalannya waktu, namanya berpasangan yak, saling mempengaruhi dong. Ternyataaa yang dua kali sehari kalah kuat 😅 lha ikutan jadi sekali sahari, gimana dong.

Tapi yaaa namanya pasangan halal yak, ada special case dong. Sehari mandi dua tiga empat kali sehari mah hayuklah, berapapun gass... kalau memang ada yang mewajibkan 🤣😂 #iykwim

#pribadi #pasangan #suamiistri #suami #istri #cerita #pernikahan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pi pi pi pisang

 Lama ga nulis di sini. Coba lagi ya.  Sekalian mengabarkan, untuk yang keempat kalinya, aku menjadi "bukan diriku sendiri". Yang tadinya ga suka pisang, kali ini sangat suka & bergantung sama pisang.  Satu sisir sanggup dihabiskan sendiri. Sekali duduk sanggup makan lebih dari satu.  Sunggu Allah Maha Pengatur. 

Ngelantur dikit with ma lovely Mama :D

Sabtu, 17 Sept 2011 alone at home.. :D lagi dapat semangat buat ngapelin si lappy,masih berjuang didetik-detik deadline pengiriman naskah LMCR-2011 ROHTO-MENTHOLATUMGOLDEN AWARD. Agak ragu sih, mungkin karena terlalu obsesi, but Mama and Abang said, "Dicoba dulu,bagus aja kok yang penting usaha" Jadi cemungud lagi deehh.. :D *sekilas info :P* kembali ke judul Pas habis ngunciin motor rutinitas hari-hari, sempat mojok beduaan sama Mama Mama : Riz, lulus SMA kamu langsung nikah aja ya?! *nawarin,ato nyuruh nih Me : (bingung jawab apa) He?! Mana bisa, ndak ada yang mau ngelamar, Ma.. Mama : Kalo ada, mau kah? Me : Isshh..ndak segitunya juga kali, Ma.. ..bla..bli..blu..ble..blo.. hahahaha.. geli juga sih ingat momen ini. WHAT?! NIKAH?? huweewh.. huufhh.. entahlah, umurku mah masih 17 tahun, Desember ini 18. Heuh, KTP aja belum punya (ketahuan bukan WN yg tertib :p), ini, disaranin nikah lagi..ckck..pacar aja ga punya.. --" siapa calonnya coba?! hmm, ada sih c...

Lebih tertarik

https://saidoto.blogspot.com/2012/12/kisah-lamaran-salman-al-farisi.html?m=1 Singkat cerita, ketika Abud Darda' sahabat Anshar yang mengantar Salman untuk melamar seorang muslimah Anshar lebih dipilih pinangannya jika datang juga untuk meminang daripada pinangan Salman yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Pengantar lebih dipilih daripada pelamar. Pernah sekian waktu yang lalu, semacam menghadapi hal serupa yang dialami muslimah Anshar itu. Entah. Bedanya, aku tetap memilih "pelamar" walaupun rasanya aku lebih klop, cocok, dan nyambung dengan si "pengantar". Nasi sudah menjadi bubur, bubur basi dibuang ke sawah yang menumbuhkan benih padi. Ini kisah lama, sudah lama berlalu. Bahkan sudah tidak tahu lagi bagaimana kabar keduanya, baik "pelamar" maupun "pengantar". Sekarang aku kembali ke sawah, tumbuh disemai dan siap menjadi beras yang kualitasnya lebih baik dari sebelumnya. Menunggu pantas dipanen oleh seorang "petani" sho...