Langsung ke konten utama

Rencana Temu Kangen bonus temu kangen tak terduga

 15.02.22


Tertangkap kamera masbojo mendokumentasikan. Ngelentruk kelaperan belum makan siang.


Perjalanan masih panjang untuk sampai ke Tegal. Baru sampai Purbalingga. Mumpung ngelewati kota yang masih ada SambelLayahnya, temu kangen deh.

Subhanallah ya mau ke SambelLayah aja sekarang kudu sampai sini, cabang jogja udah pada tutup semua,hiks. Padahal mah biasa sepekan bisa dua tiga kali mampir kalo pas wirawiri ngurus percetakan nabrak jam-lapar.

Ternyata temu kangen bukan cuma sama SambelLayah di sini 😌

Di situ termenung bukan sedang melamun, tapi sedang menggali memori itu di meja depan seseibu beberapa kali saling pandang denganku, siapa ya kok kyk kenal. Mana dari sudut pandangku backlight pula. Agak sulit mengidentifikasi.

Qadarullah, ada momen sepersekian detik nampak bahkan gestur dan mimik khas yang jelas. Ga banyak bicara, dalam hati cuma berharap semoga ga salah orang, mau ga mau siap malu kalo sampai salah orang. Samperin langsung.

Alhamdulillah, plong lega ga salah orang, langsung disambut senyum sapa Mbak Eep yg baru selesai makan bareng suami & anaknya.

Qadarullah bertahun-tahun ga ketemu, alhamdulillah masih saling ingat. Ditakdirkan saling kenal karena jadi salah satu teman sekamar di asrama meski beda angkatan, beda jurusan, beda kampus.

Setelah keluar asrama, hidup berkeluarga masing-masing, sempat ketemu di salah satu lokasi mitra percetakan Jogja. Suami-suami kami ada urusan percetakan masing-masing. Ga banyak cerita dan ga ada kesempatan ketemu lagi atau gimana. Lost contact.

Masyaallah, ga nyangka bisa ketemu lagi, di Purbalingga pula.
Mbak yang heran kok bisa ketemunya di sini. Haha. Mbak Eep mah emang orang Purbalingga. Lha aku...hehe, sengaja mampir Purbalingga demi temu kangen sambel layah. Eh bonus temu kangen sama Mbak Eep.

Mbak, senang bisa ketemu. Semoga sehat selalu sekeluarga, lancar segala urusan, melimpah rejekinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pi pi pi pisang

 Lama ga nulis di sini. Coba lagi ya.  Sekalian mengabarkan, untuk yang keempat kalinya, aku menjadi "bukan diriku sendiri". Yang tadinya ga suka pisang, kali ini sangat suka & bergantung sama pisang.  Satu sisir sanggup dihabiskan sendiri. Sekali duduk sanggup makan lebih dari satu.  Sunggu Allah Maha Pengatur. 

Ngelantur dikit with ma lovely Mama :D

Sabtu, 17 Sept 2011 alone at home.. :D lagi dapat semangat buat ngapelin si lappy,masih berjuang didetik-detik deadline pengiriman naskah LMCR-2011 ROHTO-MENTHOLATUMGOLDEN AWARD. Agak ragu sih, mungkin karena terlalu obsesi, but Mama and Abang said, "Dicoba dulu,bagus aja kok yang penting usaha" Jadi cemungud lagi deehh.. :D *sekilas info :P* kembali ke judul Pas habis ngunciin motor rutinitas hari-hari, sempat mojok beduaan sama Mama Mama : Riz, lulus SMA kamu langsung nikah aja ya?! *nawarin,ato nyuruh nih Me : (bingung jawab apa) He?! Mana bisa, ndak ada yang mau ngelamar, Ma.. Mama : Kalo ada, mau kah? Me : Isshh..ndak segitunya juga kali, Ma.. ..bla..bli..blu..ble..blo.. hahahaha.. geli juga sih ingat momen ini. WHAT?! NIKAH?? huweewh.. huufhh.. entahlah, umurku mah masih 17 tahun, Desember ini 18. Heuh, KTP aja belum punya (ketahuan bukan WN yg tertib :p), ini, disaranin nikah lagi..ckck..pacar aja ga punya.. --" siapa calonnya coba?! hmm, ada sih c...

Lebih tertarik

https://saidoto.blogspot.com/2012/12/kisah-lamaran-salman-al-farisi.html?m=1 Singkat cerita, ketika Abud Darda' sahabat Anshar yang mengantar Salman untuk melamar seorang muslimah Anshar lebih dipilih pinangannya jika datang juga untuk meminang daripada pinangan Salman yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Pengantar lebih dipilih daripada pelamar. Pernah sekian waktu yang lalu, semacam menghadapi hal serupa yang dialami muslimah Anshar itu. Entah. Bedanya, aku tetap memilih "pelamar" walaupun rasanya aku lebih klop, cocok, dan nyambung dengan si "pengantar". Nasi sudah menjadi bubur, bubur basi dibuang ke sawah yang menumbuhkan benih padi. Ini kisah lama, sudah lama berlalu. Bahkan sudah tidak tahu lagi bagaimana kabar keduanya, baik "pelamar" maupun "pengantar". Sekarang aku kembali ke sawah, tumbuh disemai dan siap menjadi beras yang kualitasnya lebih baik dari sebelumnya. Menunggu pantas dipanen oleh seorang "petani" sho...